
Judul Buku : Membangun Hutan Tanaman Meranti: Membedah Mitos Kegagalan Melanggengkan Tradisi Pengusahaan Hutan
Penulis : Mamat Mulyana; Tri Hardjanto; Gusti Hardiansyah
Editor : Agung Nugraha
Tahun Terbit : 2005
Penerbit : Wana Aksara
Kota Penerbit : Tangerang
Jumlah Halaman : xliv+316
ISBN : 979990515x
Sinopsis Buku :
Sinyalemen kegagalan praktek pengelolaan hutan alam tropis berbasis sistem silvikultur tebang pilih telah menjadi sebuah mitos. Ditingkahi tiga faktor eksternal utama, yaitu (1) krisis ekonomi berkepanjangan, (2) euforia reformasi, dan (3) ketidakjelasan rancang bangun desentralisasi, telah menghasilkan konfigurasi hutan alam tropis yang sama sekali berbeda dengan konsepsi awalnya. Hutan alam produksi yang menjadi alas pergerakan setiap unit manajemen HPH/IUPHHK kini telah didominasi proses deforestasi dalam bentuk hutan bekas tebangan (logged over area) dan kawasan hutan rusak (deforestation). Intinya, perubahan “evolusioner” yang selama ini dikonsepsikan dalam praktek pengelolaan hutan alam tropis justru berlangsung secara “revolusioner” yang menghasilkan kegagalan sikap antisipatif sekaligus kegagalan tindakan responsif para pihak.
Bercermin dari realitas di atas, buku berjudul “Membangun Hutan Tanaman Meranti. Membedah Mitos Kegagalan Melanggengkan Tradisi Pengusahaan Hutan” ini mencoba mengajukan tiga perspektif gugatan terhadap eksistensi dan fungsi sistem silvikultur hutan alam (baca: sistem tebang pilih), yaitu (1) mempertahankan sistem silvikultur lama, (2) menyempurnakan sistem silvikultur yang sudah ada, ataukan sebaliknya, (3) merubah total dna merekonstruksi sistem silvikultur baru. Adapun pilihan yang akan ditetapkan, tampaknya sistem silvikultur hutan alam ke depan harus mampu mengakomodir empat syarat utama. Pertama, kontinuitas kemampuannya sebagai pemasok sumber penghara bahan baku bagi kelangsungan dan keberlanjutan industri perkayuan nasional. Kedua, kemampuan mempertahankan fungsi konservasi hutan tropis sebagai paru-paru dunia dan penyangga ekosistem planet bumi. Ketiga, terwujudnya kelestarian keanekaragaman hayati dan sumber plasma nutfah. Serta keempat, keberlanjutan kehidupan komuniti secara lintas generasi. Jelas, keberhasilan pengelolaan hutan ke depan akan sangat ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari aspek kepastian hukum dan jaminan kepastian berusaha, dukungan legislasi dan kelembagaan yang kondusif, termasuk penerapan sistem silvikultur yang adaptif sebagai kondisi pemungkin. Dalam konteks sistem silvikultur, diperlukan sebuah “rekonstruksi” sistem silvikultur hutan alam yang akan dapat melanggengkan tradisi pengusahaan hutan yang telah terbangun selama hampir tiga dasawarsa terakhir. Dialektika wacana sekaligus praksis pembangunan hutan tanaman meranti berbasis Sistem Tebang Pilih dan Tanam Jalur (TPTJ) sebagaimana diulas dalam buku ini merupakan salah satu alternatif yang diharapkan akan menjadi solusi tepat dan adaptif.