
Judul Buku : Tatkala Hutan Tak Lagi Hijau: Refleksi Kritis Catatan Pengabdian Seorang Rimbawan
Penulis : Tjipta Purwita
Editor : Agung Nugraha
Tahun Terbit : 2007
Penerbit : Wana Aksara
Kota Penerbit : Tangerang
Jumlah Halaman : xxx+416
ISBN : 9792537031
Sinopsis Buku :
Kehutanan Indonesia tengah berubah. Tengoklah semua literatur yang menulis tentang hutan dan kehutanan Indonesia setidaknya satu dekade terakhir -yang selalu menyebutkan romantisme hutan sebagai salah satu kekayaan alam yang terkenal bak sabuk bumi nan menghijau. Hampir semua tulisan bahkan sejak zaman para pujangga di era kerajaan nusantara- menyatakan bahwa hutan merupakan salah satu kekayaan alam yang melegenda sebagai bagian dari zamrud khatulistiwa yang menjadi sumber kemakmuran bagi seluruh masyarakat dan Bangsa Indonesia, dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua. Itulah konseptualisasi hutan tropis Indonesia yang selalu hijau sepanjang tahun dan tak akan pernah habis dikelola karena sifatnya yang terbaharui.
Namun, sayang konseo sungguh jauh berbeda dengan kenyataan. Hari ini, tengoklah hutan-hutan hujan tropis di seluruh Indonesia. Kawasan hutan yang di atas peta empat dekade lalu tampak hijau, kini berubah didominasi warna merah dan kuning. Di lapangan, kondisi tersebut mencerminkan pertanda bahwa tegakan hutan yang dulu tumbuh lebat kini berkurang bahkan hilang, berubah dengan kawasan gundul atau padang alang-alang. Sebuah kawasan miskin produktivitas dan sangat rawan akan bencana alam. Semua tak lain karena sebagai salah satu penyangga ekosistem bagi kelangsungan hidup secara lintas generasi tak lagi berfungsi.
Demikianlah, rekaman berbagai proses perubahan tersebut tertuang dalam buku berjudul “Tatkala Hutan Tak Lagi Hijau. Catatan Kritis Pengabdian Seorang Rimawan”. Ibarat buku putih, paparannya berisi refleksi perjalanan obyektif kontekstual tentang perkembangan hutan tropis Indonesia dalam empat dasawarsa terakhir. Sebagai sebuah kontemplasi, buku ini mencerminkan keprihatinan sekaligus kegundahan seorang rimbawan yang mewakili kegelisahan ratusan bahkan ribuan rimbawan lain yang kini tengah berada di persimpangan jalan. Sebuah kegamangan kolektif dalam menatap kehutanan masa depan.